Ketika trailer pertamanya muncul beberapa tahun lalu, banyak yang mencap Wuchang: Fallen Feathers sebagai “Sekiro versi China” atau sekadar mengekor kesuksesan Black Myth: Wukong. Namun, setelah memainkannya secara penuh, anggapan itu salah besar.
Dikembangkan oleh Leenzee Games, Wuchang menawarkan identitas yang jauh lebih gelap, kotor, dan meresahkan. Mengambil latar di penghujung Dinasti Ming yang kacau di wilayah Shu (Sichuan), game ini memadukan sejarah nyata dengan horor kosmik ala Lovecraft yang penuh bulu dan tentakel.
Apakah game ini layak menjadi koleksi perpustakaan Soulslike Anda? Berikut ulasan lengkapnya.
1. Atmosfer Wuchang: Fallen Feathers – Saat Sejarah Bertemu Mimpi Buruk

Dunia Wuchang bukanlah dunia persilatan yang indah dan romantis. Ini adalah neraka duniawi. Desa-desa terbakar, mayat bergelimpangan, dan langit tertutup kabut tebal yang menyesakkan.
Visual game ini (menggunakan Unreal Engine 5) sangat memukau dalam menampilkan kengerian. Musuh yang Anda hadapi bukan sekadar bandit atau prajurit, melainkan manusia yang bermutasi menjadi monster berbulu akibat wabah misterius “Feathering”. Desain monsternya grotesque—bayangkan monster Bloodborne tapi dengan estetika kekaisaran China kuno. Sangat unik dan membuat bulu kuduk berdiri.
2. Combat Wuchang: Fallen Feathers – Agresif, Cepat, dan Penuh Darah
Jika Anda berharap bisa bermain aman di balik perisai, lupakan saja. Wuchang menuntut agresivitas. Inti dari pertarungan di sini adalah menangkis (parry) dan mematahkan postur lawan.
-
Senjata Variatif: Tidak seperti Sekiro yang terpaku pada satu pedang, Wuchang memberikan kebebasan. Anda bisa menggunakan pedang ganda, kapak besar (two-handed), hingga senjata api kuno.
-
Senjata Api: Ini adalah game-changer. Menggunakan pistol tangan atau meriam tangan di tengah kombo pedang memberikan kepuasan tersendiri. Ini bukan hanya untuk menyerang jarak jauh, tapi juga untuk memperpanjang kombo atau menghentikan serangan musuh yang tidak bisa di-parry.
-
Feedback Serangan: Suara dentingan logam saat pedang beradu terasa berat dan nyaring. Setiap tebasan terasa memiliki dampak (impactful), membuat pertarungan terasa sangat viseral.
3. Fitur Utama Wuchang: Fallen Feathers – Kutukan “Feathering”

Judul game ini bukan hiasan. Sang protagonis, Wuchang, menderita penyakit bulu tersebut. Alih-alih hanya menjadi elemen cerita, ini menjadi mekanik gameplay yang krusial.
Semakin sering Anda menggunakan kekuatan magis atau mati, infeksi bulu akan menyebar. Ini adalah sistem Risk vs Reward.
-
Keuntungan: Dalam mode “Feral” atau saat infeksi tinggi, serangan Anda menjadi jauh lebih kuat dan brutal.
-
Kerugian: Pertahanan Anda menurun drastis, dan kewarasan karakter terancam. Jika tidak dikelola, ini bisa memicu bad ending atau mempersulit permainan. Mekanik ini memaksa pemain untuk menyeimbangkan nafsu akan kekuatan dengan keinginan untuk tetap menjadi manusia.
4. Tingkat Kesulitan dan Eksplorasi
Wuchang: Fallen Feathers adalah game yang sulit. Sangat sulit. Boss fight di game ini didesain untuk menghukum pemain yang ragu-ragu. Pola serangan musuh seringkali delay (tertunda) untuk menipu timing parry Anda.
Desain levelnya semi-open world dengan banyak jalan pintas (shortcut) yang saling terhubung, khas genre Soulslike. Eksplorasi sangat dihargai karena Anda bisa menemukan catatan sejarah (Lore) yang mengungkap fakta mengerikan di balik wabah bulu ini, serta upgrade material untuk senjata Anda.
5. Kekurangan Wuchang: Fallen Feathers – Sedikit Kasar di Tepian
Meski memukau, game ini tidak luput dari kekurangan:
-
Navigasi yang Membingungkan: Karena suasana yang gelap dan monokromatik (dominan abu-abu dan merah), terkadang sulit membedakan jalan yang bisa dilalui dengan tembok hiasan.
-
Kamera Boss: Masalah klasik game action 3D. Saat melawan boss berukuran raksasa di area sempit, kamera seringkali “nyangkut” di tembok atau tertutup badan boss, membuat kita tidak bisa melihat serangan yang datang.
Kesimpulan: Sebuah Permata Hitam
Wuchang: Fallen Feathers berhasil keluar dari bayang-bayang para pendahulunya. Ia berdiri tegak dengan identitasnya sendiri: perpaduan mengerikan antara sejarah Dinasti Ming dan horor fantasi gelap.
Sistem bertarungnya yang memuaskan, dipadu dengan penggunaan senjata api dan mekanik kutukan yang unik, membuatnya menjadi salah satu game Action RPG terbaik tahun ini. Bagi penggemar tantangan yang menyukai estetika dark fantasy, game ini adalah wajib hukumnya.
Skor Akhir: 8.5/10
Kelebihan:
-
Atmosfer horor yang kental dan desain monster yang unik.
-
Combat yang responsif dan variasi senjata (terutama senjata api).
-
Cerita dan Lore yang dalam, memadukan sejarah dan fiksi.
-
Visual Unreal Engine 5 yang tajam.
Kekurangan:
-
Kamera sering bermasalah saat Boss Fight.
-
Navigasi peta terkadang membingungkan.
-
Tingkat kesulitan yang mungkin tidak bersahabat bagi pemain kasual.
Rekomendasi: Jika Anda menyukai Sekiro: Shadows Die Twice atau Wo Long: Fallen Dynasty, tapi menginginkan nuansa yang lebih gelap dan horor, Wuchang adalah jawabannya. Siapkan mental (dan stik cadangan) Anda!
Baca juga : Seni Horor Manga Junji Ito: Mengapa Gambar ‘Menjijikkan’ Justru Membuat Ketagihan?


